Showing posts with label My Trip. Show all posts
Showing posts with label My Trip. Show all posts

25 October, 2015

Trip To Papandayan




Pemandangan awal2 tracking
Untuk kali ketiga, setelah Prau dan Lawu, gue mencoba naik gunung kembali.. Kali ini gue mencoba trek yang kata orang memiliki tingkat kesulitan yang relatif lebih ringan yaitu Gunung Papandayan. Gue berangkat tanggal 19-20 September 2015. Gunung Papandayan terletak di Provinsi Jawa Barat,tepatnya di Kabupaten Garut, Kecamatan Cisurupan dengan memiliki ketinggian 2.665 Mdpl.


Kali ini gue ikut bersama Open Trip Jakarta Traveler. Jakarta traveler merupakan kumpulan sebuah komunitas dimana mereka memiliki kesamaan hobi, yaitu traveling. Open trip Gunung Papandayan merupakan open trip pertama mereka, dimana didalamnya terdapat kurang lebih 40-50 orang yang ikut termasuk gue sendiri.

Menuju Kawah Papandayan
Gue berangkat dengan teman-teman dari Bogor berjumlah 4 orang (termasuk gue). Teman-teman seperjuangan gue adalah Pei (Yang selalu together naik dari Prau dan Lawu), Hendry (Temennya Pei), dan Elisa(Temen Gue). Hendry dan Elisa adalah orang baru yang baru pertama kali naik gunung. Gunung Papandayan memang merupakan gunung yang recomended bagi kalangan pemula.
Perjalanan dimulai dengan Meeting Point di daerah Slipi sekitar Pk 21.00. Namun, ya namanya juga Indonesia, dengan budaya ngaretnya, jadi ya baru berangkat sekitar Pk 23.00. Perjalanan kurang lebih sekitar 8 jam, akhirnya sampai di Camp David yang merupakan awal sebuah perjuangan mendaki gunung. Sekitar 1 jam waktu untuk repacking dan segala macam kita pun siap untuk tracking. Plan kita adalah camp di Pondok Salada.

Perjalanan kitapun begitu santai. Dengan banyaknya pemula disini yang baru pertama kali naik gunung, perjalanan kita kebanyakan istirahatnya. Namanya juga naik gunung, jadi kita harus sama-sama menuju tujuan yang sama. Mayoritas treknyapun landai meskipun ada pula yang naik. Dengan kebanyakan istirahat, kamipun bisa mencapai Pondok Salada dengan waktu sekitar 4 jam lebih. Sesampai disana, kita pun mendirikan tenda, dan mempersiapkan makan siang. Setelah semuanya selesai, tidur sebentar sebelum sore kita lanjut ke Hutan Mati.
Kawah Papandayan

Perjalanan ke Hutan Matipun landai, tidak terlalu capek. Apalagi sore hari yang matahari tidak percis diatas kita. Hutan Mati memang memiliki magnet tersendiri disini. Gue cukup menikmati disini dan mengcapture beberapa foto. Disini bersama 3 orang temen gue, kita narsis2an dengan gear Camera punya gue seperti biasa. Cukup banyak foto yang terambil disini. Waktu tidak terasa sudah sore, namun spot sunset tidak didapat disini sehingga ada yang kurang dari perjalanan naik gunung kali ini.

Camp di Pondok Salada
Sesampai balik dari Hutan Mati, kami kembali ke camp. Disana gue ganti baju,celana,dll untuk ngecamp. Diusahakan perlengkapan untuk ngecamp adalah baru yang tidak kita pakai saat tracking. Saat malam, panitia membuat Api Unggun dan membuat acara ramah tamah dan perkenalan. Disaat itu juga merupakan kesempatan buat panita Jakarta Traveler menjelaskan tentang “Apa sih Jakarta Traveler itu”. Dari sekian banyak yang dijelaskan, gue bisa menarik kesimpulan kalau Komunitas ini memiliki visi dan misi yang terstruktur dengan baik. Berbeda dengan komunitas dan open trip yang lain, yang sangat mementingkan kebutuhan ekonomi, disini yang bisa gue ambil adalah kebersamaannya. Diluar ini mereka memiliki kebersamaan yang tidak hanya dalam dunia traveling saja, melainkan bisa didunia musik,olahraga,dsb. Merekapun (Panitia) mengajak kita untuk ikut andil dalam mengembangkan komunitas ini.
Hutan Mati

Waktu tidur disini cukup baik dibandingkan dengan naik 2 gunung terdahulu. Dinginnya pun masih dibawah 2 gunung tersebut. Besok paginya, dikarenakan spot Sunrise tidak boleh dilewati karena masih adanya kebakaran, kamipun berangkat dari Camp agak siangan. Tempat yang kita tuju disana adalah Hutan Mati lalu naik ke Tegal Alun. Perjalanan ke Hutan Mati seperti kemarin, sama landainya. Namun, setelah itu gue agak kaget sama treknya. Trek naik menuju tegal alun itu cukup curam dengan membentuk sudut 45 derajat. Gue yg cowo aja agak ribet, gimana yg cewe yang baru pertama naik gunung. Disini gue bawa kamera + tripod, jadi makin ngeribetin aja dah. Yang cewe karena agak ribet buat naiknya, jadi yang cowo yang diatas ngasih tali ke bawah, sehingga yang cowo menarik yang dibawahnya (cewe).

Tegal Alun (Sebagian Terbakar)
Sesampainya di atas gue masih tracking lg menuju Tegal Alun. Namun dipersimpangan jalan kita salah ambil jalan. Alhasil kita nyasar, meskipun kita pun menemukan Tegal Alun Kw1 dengan banyaknya edelweis juga.

Setelah itu,kami melanjutkan jalan menuju Tegal Alun ORI dan menemukan lahan yang jauh lebih luas. Disanapun kita bisa menemukan sebagian dari Tegal Alun yang sudah terbakar. Tempat yang sudah terbakar ini masih agak jauh dari kita awal pertama kali sampai, jadi tidak akan ada masalah.

Setelah puas poto-poto di Tegal Alun, kami kembali ke camp dengan melewati trek Hutan Mati. Pas turun kita melewati trek yang berbeda dengan saat awal naik ksini. Trek yang lebih landai, tidak securam 45 derajat seperti pada saat naik.

Sesampai di Camp agak siang, setelah itu kita beres-beres, mandi,repacking,dsb. Perjalanan turunpun setengah waktu lebih cepat saat naik dengan memakan waktu hanya 2 jam. Dan pada akhirnya sampai kembali di Camp David sekitar Pk 15.30. Sesampainya di Camp David, beres-beres dan akhirnya pulang kembali ke Jakarta. Perjalanan sampai di Jakarta sekitar Pk 23.00 dan kami turun di UKI dan melanjutkan kembali menuju Bogor dengan menggunakan Taxi. Sampai di Bogor sekitar jam 1 pagi dan 4 jam kemudian sudah harus siap-siap bekerja seperti biasa.

Liburan, petualangan yang singkat tapi cukup untuk menuntaskan rindu dengan pemandangan gunung yang memang lain daripada yang lain.

07 June, 2015

Trip to Gunung Lawu Part II

Jujur kondisi gue saat itu tidak benar-benar 100%. Hari selasa yang lalu gue baru aja bed rest di rumah dan hari sabtu gue naik gunung. Awalnya nyokap sempet wanti-wanti dikarenakan kondisi gue yang belum bener-bener fit sehabis sakit. Namun dikarenakan keyakinan dalam diri gue, gue tetep jalan dan nyokappun mengizinkan.

Perjalanan awal adalah perjalanan terberat apalagi buat lu yang belum bener-bener mempersiapkan badan lu. Perjalanan dimana badan lu agak kaget dengan medan cuaca dan perjalanan yang tidak seperti biasanya. Yaa hanya awal, selanjutnya seharusnya lu udah bisa lebih baik karena badan lu lama-lama pasti bisa beradaptasi.

Warung Pos 1
Gunung Lawu merupakan gunung yang unik. Uniknya adalah diantara 5 pos sebelum sampai ke puncak, ada 3 pos dimana disana terdapat warung. Warung yang terkenal adalah Warung Mbok Yem. Warung ini boleh dibilang merupakan warung tertinggi di Indonesia, karena letaknya tidak begitu jauh dari Puncak Gunung Lawu. Namun sayang, kita ga mampir disana karena waktu.

Sampai di Pos 1 sekitar 2 jam dari basecamp, kita langsung disuguhkan dengan warung pertama yang kita temui. Kamipun beristirahat sejenak dengan makan gorengan dan minum teh manis anget. Disana gue abis 5 pisang goreng. Harga gorengan disini 1.000 dan teh manis angetnya seharga 2.000. Disinipun dijual nasi bila lu mau pada nasi. Dijual dengan harga 2.500 dengan isi ya seadanya. Nasi,mie dan tempe. Namun lumayanlah buat ganjel perut ato buat isi tenaga lagi.

Little Sunset at Gunung Lawu
Setelah cukup mengisi tenaga, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2 dan akhirnya memasang tenda di pos 3. Perjalanan dari pos 1 sampe pos 2 sekitar 4 jaman. Kami sampai di pos 3 sekitar jam 7an. Dikarenakan sudah mulai gelap, kami mengambil keputusan berkemah disini.

Sesampainya disini, kami mendirikan tenda sebanyak 4 dengan masing-masing tenda berisi 4 orang. Tenda sudah jadi, ada yang beres-beres, ada yang ganti pakaian, ada juga yang masak. Gue sendiri beres-beres dulu, kemudian ganti pakaian, dan makan. Gue sendiri ga masak, karena ga bawa indomie, ataupun yang lain yang bisa dimasak. Gue beli nasi yang tadi dibeli di pos 2. Setelah semuanya kelar, gue pun langsung tidur, recovery untuk besok summit.

Ada yang bilang Gunung Lawu merupakan Gunung Paling Dingin di Jawa. Dibandingkan Gunung Prau, Gunung Lawu memang lebih dingin. Dengan pakaian berlapis-lapis ditambah Sleeping Bag namun dinginnya masih sangat terasa. Meskipun begitu, untungnya gue adalah tipikal orang yang tidak sulit untuk tidur. Gue pun sempet beberapa jam tidur, meskipun sempet juga bangun dikarenakan cuacanya yang cukup extrim.

Paginya kami bangun dengan kondisi yang semakin dingin. Dingin harus dilawan, dan dingin harus dilawan dengan pergerakan. Gue pun melawan rasa dingin itu dengan bergerak. Kita berangkat sekitar jam 4 pagi. Perjalanan pagi-pagi buta demi mendapat sunrise dan juga mencapai puncak Gunung Lawu. Di Gunung Lawu terdapat 3 puncak yaitu Hargo Dalem, Hargo Dumiling, dan Hargo Dumilah. Diantara 3 nama tersebut, Hargo Dumilah merupakan puncak tertinggi dengan 3265 Mdpl dan puncak itulah yang akan nanti kita pijak.
View from Near of Summit Mount Lawu

Perjalanan yang tidak biasa pagi-pagi dengan cuaca yang cukup extrim, awalnya kami cukup kesulitan beradaptasi. Namun lama kelamaan kami bisa menyesuaikan diri dan akhirnya sampai di pos 5 untuk menantikan Sunrise. Disini merupakan spot terbaik untuk mendapatkan Sunrise. Sunrise identik dengan Foto Sillouthe dan gue harus dapat foto sillouthe disini.

Hunting foto-fotopun selesai dan selanjutnya kami melanjutkan perjalanan menuju puncak tertinggi Gunung Lawu, Hargo Dumilah. Di sela-sela perjalanan kami beberapa kali mengambil gambar, karena disinilah spot-spot terbaik Gunung Lawu. Disaat seperti inilah gue merasa seperti di dunia berbeda dengan segala macam view yang tidak akan lu bisa dapet di perkotaan. Butuh effort lebih untuk bisa berada disini dengan segala pemandangan yang indah.

It's HARGO DUMILAH 3265 MDPL !!! YEAHHH !!!
Puncak Hargo Dumilah
Akhirnya gue bisa menginjakkan kaki di puncak salah satu gunung tertinggi di Pulau Jawa. Dengan kondisi fisik yang tidak benar-benar fit, gue bisa sampai puncak. Ini merupakan langkah awal gue dari keinginan terbesar gue yaitu sampai di Puncak tertinggi di Pulau Jawa yaitu Mahameru.

Setelah sampai Puncak, kami kembali ke Camp. Namun sebelum di Camp, kami mampir ke Pos 5 dulu untuk mengisi tenaga. Makan Indomie Rebus ditambah Teh Manis Angit plus Pisang Goreng Anget. Maknyussss emang dingin-dingin minum yang anget-anget.

View from Top of Mount Lawu
Setelah semuanya beres, kami kembali ke Camp dan sampai jam 10. Setelah itu repacking, membereskan tenda dan pada akhirnya kami siap pulang ke tempat kita masing-masing. Perjalanan dimulai jam 11. Perjalanan turun gunung biasanya lebih cepat dari naik gunung. Dikarenakan ada teman kita yang tidak dalam keadaaan yang oke, gue bersama 2 temen lainnya menunggu dia, memberi semangat dan akhirnya kita bisa kembali ke basecamp sekitar jam 4 atau 5 jeman perjalanan. Cukup lama dibandingkan teman-teman lain yang bisa sampai 1 jam lebih cepat dari kami. Naik gunung bukan seberapa cepat kita sampai ke tujuan, namun bagaimana kita sebagai sebuah kesatuan team bisa maju bersama-sama mencapai tujuan kita bersama dan mengesampingkan keegoisan kita masing.

Sesampainya di Basecamp, gue makan, beres-beres dan kembali ke rumah kita masing-masing. Kondisi badan memang capek, tapi pasti akan selalu ada pengalaman-pengalaman yang tidak akan bisa kita beli dengan uang.


See u on next trip.. #SALAMLESTARI

Trip to Gunung Lawu Part I

View Gunung Lawu
Gunung Lawu terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur tepatnya di kabupaten Magetan. Gunung ini memiliki ketinggian 3265 Mdpl yang merupakan salah satu dari 10 gunung tertinggi di Pulau Jawa. Oleh karena tinggi itulah gue berkeinginan untuk mencapai puncak tertinggi gunung tersebut. Me
skipun tinggi,  Gunung Lawu masih masuk kategori gunung yang cocok untuk pemula dikarenakan medan pendakian yang memang masih aman dan jelas.

Gunung Lawu terkendal dengan mistisnya. Itu terlihat saat lu googling tentang gunung lawu. Ada banyak post yang bercerita tentang mistisnya gunung tersebut. Mengutip berita dari okezone.com, dijelaskan bahwa Gunung Lawu merupakan gunung terangker karena Lawu itu belum terungkap misteri atau jati diri Lawu. Contoh yang aling nyata sampai sekarang tidak pernah ditemukan kuburan eyang Lawu & Sunan Lawu. Gunung Lawupun terkenal dengan penunggu sekaligus penunjuk jalan seekor burung misterius bernama Kyai Jalak Lawu. Konon bila lu ketemu burung tersebut, dia akan mengantar sampean ke puncak Gunung Lawu. Burung ini berwarna Gading, berbeda seperti burung Jalak biasanya yang berwarna hitam. Ada berbagai macam misteri dari Gunung Lawu, meskipun begitu Gunung Lawu tetap menjadi Primadona bagi para pendaki.

Kali ini gue berangkat sama temen gue yang bernama Ferry. Kami berdua mengikuti open trip yang dibuat oleh Setapak Adventure. Perjalanan diawalin dari cuti 1 hari tanggal 22 Mei 2015 hari Jumat dengan pemberangkatan kereta Brantas jam 4 sore dan diakhirin tanggal 25 Mei 2015 hari Senen dengan pemberangkatan kereta Matramaja Pk 00.00. Kereta Brantas bertujuan akhir di Stasiun Kediri, dan kami berhenti di stasiun Solo Jebres sebagai Meeting Point dengan anak2 yang ikut trip ini juga. Perjalanan jam 4 dan berakhir jam 1 pagi di Stasiun Solo Jebres. 

Karena Meeting Pointnya jam 6 pagi, kamipun mencari tempat makan dan istirahat sejenak di warung terdekat. Disitu gue makan Nasi + Soto Ayam dengan harga 8.000. Cukup terjangkau dengan kantong. Berasa jadi anak jalanan, saat paginya pun kami sikat gigi,cuci muka, kencing di Stasiun.

Pada waktunya sekitar jam 8 kamipun dijemput oleh tim Setapak Adventure. Kami dijemput, diantarkan ke basecamp di dekat Terminal Bis Tirtonadi (Terminal Bis di Kota Solo). Disana kami menunggu teman-teman lain yang belum sampai. Pada akhirnya sekitar jam 10, kami berangkat menuju Base Camp Gunung Lawu via Cemoro Sewu. Jalur pendakian Gunung Lawu sendiri ada 2, yaitu Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang. Kami memilih jalur Cemoro Sewu karena jalur ini memakan waktu lebih cepat dibandingkan Cemoro Kandang. Jalanannyapun sudah sangat jelas dibandingkan lewat Cemoro Kandang.

Sesampainya di Base Camp, kami makan siang dan repacking persiapan mendaki gunung. Sekitar 1 jam waktu yang diperlukan dan akhirnya kami siap untuk memulai petualangan kita. Cuaca disana sangat dingin. Awalnya gue yang berniat pake celana selutut, akhirnya berubah pikiran dengan memakai celana panjang mengantisipasi hawa dingin yang nantinya akan semakin terasa.

27 March, 2015

Semarang Trip with Petualang Accounting

Untuk pertama kalinya ditaun 2015 ini akhirnya gue bisa ngetrip lagi.. Kali ini gue ngetrip bareng temen-temen accounting berjumlah 15 orang.. Personilnya itu Gue,Eby,Ridwan,Joko,Mas Andre,Mas Aby, Reza, Jumran, Andry, Mba Nunung, Faisal, Mas Yus, Mba Citra, Echa, dan Mba Christy, dan Putri. Mas Abud, Nisa, dan Dinda tadinya mau ikut cuma karena alasan masing-masing makanya mereka ga jadi ikut
 
Kolam Renang 1.200 Mdpl
Kita mulai pergi hari Jumat 13 Maret 2015, pemberangkatan kereta jam 4 sore. Jadinya kita mesti cuti setengah hari dan langsung berangkat ke Stasiun Senen. Kita berangkat naik Kereta Api Brantas. Kereta ini masuk kategori kereta ekonomi. Meskipun begitu gue ngerasa cukup nyaman disini. AC nya untuk 1 gerbong cukup banyak (Sekitar 5 AC). Jadi meskipun ekonomi, ga akan terasa kepanasan.
Umbul Sidomukti


Sampai di Semarang Poncol jam 11 malam, dan kita langsung dijemput oleh mobil-mobil sewaan kita yang berjumlah 3 mobil. Kita semua bergegas ke tempat penginapan, bersih-bersih dan mencari makan malam di sekitar Simpang Lima Semarang. Disini makanannya cukup bervariasi dan recomended karena harganya yang murah. Buat nongkrong-nongkrong juga okeh disini.
 
Keesokan harinya kita mulai berpetualang ke beberapa destinasi tujuan kita. Destinasi awal adalah Umbul Sidomukti. Umbul Sidomukti merupakan salah satu Wisata Alam Pegunungan di Semarang, berada di Desa Sidomukti Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang. Kawasan wisata ini didukung fasilitas & servis seperti Outbond Training, Adrenalin Games, Taman Renang Alam, Camping Ground, Pondok Wisata, Pondok Lesehan, serta Meeting Room. Kawasan ini berada di ketinggian 1.200 Mdpl. Jadi bisa dibayangkan cuacanya kan?? Waktu yang ditempuh ketempat ini yaitu 3-4 jam. Mungkin kalo diperkirakan adalah waktu dari Jakarta menuju Puncak Bogor.
Salah 1 wahana Umbul Sidomukti
 
Balik dari Umbul Sidomukti, kita semua balk ke Kota. Di kota kita terlebih dahulu makan Mie Kopyok Pak Dhuwur yang katanya cukup terkenal di kota Semarang. Mie Kopyok berisi potongan lontong, mie dan tauge yang dicelup air panas mendidih. Setelah itu kami membeli oleh-oleh. Makanan khas Semarang itu ada Lumpia, Moci, Bandeng, dll. Ada 1 tempat yang cukup terkenal di Semarang yaitu Bandeng Juwana Elrina. Disini memang terkenal dengan Bandeng Duri Lunaknya, namun disini ada berbagai macam Bandeng seperti Otak-Otak Bandeng, Bandeng Asap dan juga makanan khas yang lainnya seperti Mochi, Lumpia. Saat weekend cukup ramai disana, namun untuk parkir agak terbatas, sehingga kami harus mencari parkiran di tempat lain.
Masjid Agung Semarang.
 
Destinasi selanjutnya yaitu Masjid Agung Semarang. Masjid ini berdiri di atas lahan 10 ha dan baru diresmikan oleh Presiden SBY di tahun 2006. Masjid ini dirancang dalam gaya arsitektural campuran Jawa,Islam dan Romawi. Di dekat Masjid ini ada Menara Al Husna. Di lantai tertingginya, kamu bisa melihat view Kota Semarang layaknya melihat view Kota Jakarta dari Monas.
 
Lawang Sewu
Destinasi terakhir yang dikunjungin yaitu Lawang Sewu. Gue ksini sekitar jam 7, jadi cukup terasa aroma mistiknya jika datang kesini pada malam hari. Disini kita dijelasin berbagai macam sejarah dari Lawang Sewu beserta penjelasan bangunan-bangunanya. Cukup menambah ilmu kita sembari kita jalan-jalan. Aroma mistik di Lawang Sewu memang cukup terasa. Saat masuk, anda pasti menemukan ada pohon Mangga besar tua. Dengar-dengar disini ada penunggunya. Jadi dulu ada yang sempet pengen foto pohon tersebut, namun tidak bisa (Hanya kegelapan yang tercapture)
 
Lawang Sewu (Seribu Pintu) sebenarnya kenyataannya pintu tidak men
Salah 1 lorong Lawang Sewu
capai seribu. Sama seperti Pulau Seribu yang memang Pulaunya kurang dari seribu. Namun masyarakat sering menganggap jendela yang tinggi dan lebar itu sebagai Pintu. Lawang Sewu didirikan pada awalnya pada zaman Belanda. Didirikan sebagai Kantor Administratif Kereta Api yang merupakan cikal bakal Kereta Api di Indonesia. Kemudia pada zaman Jepang, dipakai sebagai Markas Jepang saat pertempuran 5 hari di Semarang (14-19 Oktober 1945).
Kita akhirnya pulang naik kereta Kertajaya pemberangkatan jam 1 pagi dan sampai di Stasiun Pasar Senen sekitar jam 8 pagi. Tidak banyak yang kita explore dari Kota Semarang karena trip ini hanya berjalan 1 hari. Namun begitu sudah cukup bagi kita untuk setidaknya tahu bagaimana suasana kota Semarang dengan berbagai macam ciri khasnya.
 

08 December, 2014

Trip to Gunung Prau Part II




Team Prau Adventure Minus 4 Orang






Sebelum gue diajak ngegunung ke Gunung Prau, gue sama sekali ga tau nih Gunung.. Namun setelah googling, gue mendapatkan racun banged.. Melihat segala pemandangannya, gue ngerasa harus kesinii.. Ini keren banged.. Kita pakai EO Rekreatif dengan tim Guidenya mba Pute,bang Monang,dan bang Andry dengan peserta trip yaitu gue sendiri,Eby,Vinna,Indah,Ana,Ferry,Ilman,Azka,Nadiya,Norma,Eka,Citra,Percha,Dian,Darra,dan Lumi.

Rencana awal Meeting Point di Semanggi berangkat jam 7, terpaksa ngaret karena ada peserta trip yang telat.. Kitapun baru berangkat jam setengah 9 malem.. Setelah gue melewati perjalanan yang cukup jauh dari Jakarta menuju Dieng, akhirnya sampai juga di Dieng hari minggu sekitar Pk 10.00.. Kitapun repacking disini karena pinjeman Sleeping Bed dan Matras baru dikasih sini.. Sekitar jam 12.00 kita mampir dulu ke Candi Arjuna.. Disini kita hanya foto-foto sebentar..

Perjalanan kemudian dilanjutkan trekking ke Gunung Prau.. Awal-awal terasa sangat capek hingga pos 1, ya karena itu proses adaptasi kita.. Setelah itu semuanya lebih baik hingga ke pos II dan pos III.. Di Pos ke III Dataran sudah semakin tinggi, cuaca semakin dingin, disinipun kita beristirahat sebentar untuk makan sekitar jam 5.. Kita beristirahat di tempat yang tidak dikelilingin pepohonan.. Jadi udara lepas langsung ke badan kita tanpa adanya penghalang-penghalang seperti pohon.. Perjalanan tidak begitu jauh lagi menuju Puncak.. Namun memang sudah mulai sore, kitapun memakai Head Lamp yang punya atau senter untuk membantu perjalanan kita..

Sunrise Mount Prau
Sampai di Puncak sekitar jam setengah 7,cukup gelap dan juga kabut.. Kitapun membagi tugas.. Yang cowo bantu bikin tenda.. Yang cewe bantu masak.. Cukup kesulitan untuk yang masak, dikarenakan cuaca yang dingin, membuat segalanya yang awalnya panas menjadi lebih cepat dingin.. Kita cukup lama membuat tenda.. Selain dikarenakan cuaca yang gelap,angin yang cukup kenceng dan tanah yang tidak rata membuat kita agak lama mendirikan tenda.. Namun pada akhirnya selesai juga jam setengah 9..

Setelah tenda semua sudah didirikan, kita dengan segera mengganti pakaian dan membereskan perlengkapan yang dibawa.. Gue 1 tenda dengan Ilman,Eby, dan Azka.. Sekitar jam 9an,kitapun makan indomie goreng yang dimasakin mba Pute.. Moment saat camping yang paling seru adalah saat malam kita ngumpul bermain games atau apalah itu yang penting rame dan menyenangkan.. Ternyata moment itu yang buat adalah para cewe.. Mereka bermain games ABC 5 dasar.. Ya gue ngikut2 aja ngeramein.. Cukup seru dan menyenangkan bermain itu.. Permainan waktu kecil yang mungkin zaman sekarang anak-anak pada ga tau..

Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam setengah 12 malem, kitapun disuruh tidur, menyiapkan tenaga untuk besok mengejar sunrise dan trekking kembali ke Dieng dan Jakarta.

Bangun sebenarnya jam 4, namun dikarenakan sangat dingin di dalam tenda, gue pun mengurungkan niat untuk keluar.. “Di dalem tenda ja dengan perlengkapan berlapis dan sleeping bag saja masih dingin, gimana diluar,”pikiriku.. Hampir sejam sudah berlalu, akhirnya gue memulai untuk keluar karena sayang sekali melewatkan moment Sunrise..

Sunrise awal sedikit mengecewakan karena banyak kabut.. Namun pada akhirnya matahari pun muncul, kitapun sebagai photographer dadakan mengeluarkan gear kita masing2.. Setelah itu kita muter-muter dan juga poto-poto pastinyaaa.. Setelah kita puas berpoto-poto kita balik lagi ke camp.. Di camp kita sarapan sarden, dan telor dadar.. Sekitar Pukul 10.00 kita bergegas kembali turun gunung.. Estimasi perjalanan sekitar 4 jam.. Namun dikarenakan ada hal yang tidak terduga, perjalanan akhirnya memakan waktu sekitar 6 jam..

Teman kita Ana yang memang awal berangkat tidak benar2 fit 100% pada awalanya diperkirakan terkena Hypotermia.. Dugaan awal adalah karena kaos kaki dan Kaosnya basah.. Namun ternyata dugaan itu salah.. Dia yang ternyata sensitif hal-hal mistis, kemasukan setan.. Kita cukup lama membuat dia merasa hangat, karena badannya terasa dingin dan kaku.. Kitapun membacakan doa-doa dalam agama islam untuk membuat benteng dalam diri Ana.. Gue pribadi sangat cemas dengan ini, karena Ana adalah teman kantor gue.. Gue merasa sangat bersalah bila pada akhirnya dia tidak bisa pulang dengan selamat dan tepat waktu di Jakarta.. Untungnya disana ada warga sekitar yang cukup baik yang rela menggendong Ana ke tempat BaseCamp untuk nantinya dipanggilkan orang pintar.. Untung saja memang lokasi Ana terbaring tidak begitu jauh dari Pos 1 yang dimana Pos 1 bisa diakses dengan menggunakan motor..
Trekking Gunung Prau
Setelah kita semua sampai di bawah, kemudian ada yang makan, ada yang mandi, ada juga yang ngobrol2 saja.. Gue sendiri dibawah makan bakso dulu kemudian sikat gigi dan cuci muka.. Setelah balik ke mobil, gue ketemu si Ana dan dia dalam keadaan sehat, seakan-akan tadi tidak terjadi apa2.. “Syukurlah”,pikirku..

Setelah semuanya beres, kita melanjutkan perjalanan ke Jakarta.. Namun sebelumnya kita mampir dulu ke 2 tempat.. Tempat pertama adalah tempat oleh-oleh khas Dieng.. Tempatnya tidak begitu jauh dari tempat BaseCamp tadi.. Oleh-oleh khas Dieng yang paling terkenal adalah Carica.. Carica itu seperti  buah pohon pepaya, namun lebih kecil.. Gue membeli keripik carica dan juga manisan yg bisa dijadikan campuran dalam es cocktail.. Tempat kedua adalah tempat kuliner mie ongklok.. Rasanya manis sekali, agak aneh dibandingkan rasa mie biasa.. Gue sih pribadi ga begitu suka.. Disini sekalian mandi bagi yang belom..
Camp at Mount Prau
Balik dari Kuliner Mie Ongklok sekitar jam 7 malam, kita melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta.. Untuk menghindar mabok perjalanan dan juga biar cepet tidur, gue minum antimo.. Setelah minum Antimo, gue,Darra, dan Ferry terlibat obrolan yang cukup serius namun nyantai..

Sampai di Jakarta sekitar setengah 7 dan tidak memungkinkan untuk kerja meskipun hanya setengah hari.. Ya rumah gue di Bogor.. Jelas butuh waktu 4 jam untuk perjalanan saja dari Jakarta-Bogor-Kantor.. Belum ditambah makan, mandi dan capeknya.. Ya mending ngambil cuti langsung sehari aja..

Trip berawal di Semanggi dan berakhir di Semanggi.. Trip Gunung Prau mungkin sudah berakhir, namun silaturahmi mudah-mudahan tidak berhenti dan mudah-mudahan juga masih akan ada trip-trip lain.. Terimakasih team Rekreatif..

Foto-foto selengkapnya disini

Trip to Gunung Prau Part I



Sunrise Prau

Gunung Prau adalah sebuah gunung yang terdapat di Dataran Tinggi Dieng tepat di perbatasan Kabupaten Kendal dengan Wonosobo.. Ini adalah pengalaman pertama gue naek gunung.. Gue ikutan private trip dari Rekreatif.. Agak rempong sedikit sih soal perlengkapan perang kesana, karena konon katanya di Puncak Prau itu dingin banged.. Jauh lebih dingin dari Bromo.. Bromo aja udah dingin apalagi ini yak kata gue dalam hati.. Dtambah ditakut-takutin sama yang namanya “hportemia”, jadi gue mesti bener-bener nyiapin perabotnya..

Gue ke Gunung Prau via Dieng.. Kurang lebih 5-6 jam lewat sini.. Lewat sini memang lebih lama dari Jalur Patak Banteng yang hanya 3 jam, namun Jalur via Patak Banteng sangat curam, apalagi kini musim hujan.. Jadi kita PP lewat dieng aja.. Gpp lama yang penting selamet..

Sedikit sharing sama perlengkapan yang gue bawa naik gunung.. Utk trekking gue bawa baju bola bahan polyester, celana cargo.. Gue pake baju bahan polyester dikarenakan ni baju yang cepet nyerep keringet.. Alias kalo lu keringetan, ni baju cepet kering dari keringat kaga basah.. Menghindari hypotermia jg yaitu menghindari apa yang kita pakai basah.. Trus gue pake celana cargo ya karena ni celana enak banged buat gerak, trus banyak kantongnya juga.. Usefully banged.. Gue pakenya yang bisa dipotong jadi celana selutut.. Jadi kalo males pake celana panjang, ya tinggal dipotong jd clana selutut.. Kalo mau dipanjangin lagi, ya tinggal dipasang lg.. Untuk spatu emang lebih enak pake spatu gunung yang menutupin mata kaki kita.. Tapi berhubung ga ada, gue sih lebih nyaman pake spatu running dibanding sendal gunung.. Emang sih kekurangan pake spatu running itu saat cuaca dingin n hujan.. Dia ga bisa membendung dinginnya cuaca n hujan..  Jadi masih nembus ke kaki kita.. Cuma ya untung aja kaga ujan jadi lumayan lah, Cuma dingin-dingin aja pas di puncak malem-malemnya..

Me di dekat Penanjakan Pos 3
Buat perlengkapan di Puncak, mengingat disini dingin banged pokoknya dilapis2in aja biar angetan dikit.. Gue sih disini pake kemeja flanel, trus dilapisin sweater ama jaket lagi.. Celana pake model celana training tapi yang agak anget di dalemnya.. Sejauh mata memandang, ga ada kulit yang gue biarin keliatan.. Dari tangan,kaki,leher gue tutupin.. Kepala juga gue pakein kupluk nutupin kuping.. Dengan perlengkapan begitu sih malem ampe jem 11pun tidak begitu terasa dingin.. Puncak dinginnya ya pas pagi-pagi ngejar sunrise sekitar jam 4-5.. Emang bener dinginnya jauh ngelebihin Bromo.. Kalo di bromo pake 1 lapis jaket sih udah ga gt dingin banged (Masih dingin sih), kalo disini pake berlapis2 masih dingin aje.. Cuma kalo ga diniatin buat nyari sunrise ya kaga bakal gerak.. Dingin kalo ga digerakin ya tetep aja dingin.. Setelah udah gerak kaga begitu dingin kok.. Apalagi kalo udah trekking ngejar sunrise..

1 lagi yang mau gue sharing itu “mistis”nya sebuah Gunung.. Kebetulan gue jadi saksi adanya mistis Gunung Prau ini.. Gue sih cma bisa nyaranin saat naik gunung, pikiran jangan kosong, trus kondisi badan juga harus bener2 diperhatiin, karena dgn 2 alasan itu bisa membuat kita kemasukan hal2 gaib..

Intinya Ngegunung itu bukan ngetrip yang enteng.. Lu harus bener2 nyiapin perlengkapannya.. Kalo salah, n ternyata realisasinya ternyata tak terduga, ya lu harus siap.. Perlengkapan udah ok, terus ke fisik dan juga mental.. Ya ngegunung itu bukan hal yang sulit juga kok, menyenangkan, asal lu bisa menikmati segala pemandangan, perjalanan yang lu jalanin.. Bersinergi dengan alam.. Gue emang baru pertama kali naik gunung yang boleh terbilang pendek hanya 2.565mdpl, Cuma gue pengen suatu saat ke Gunung yang lain dan berbagi lagi di sini..

25 October, 2014

Trip Gank Neo Part II to Lembang


Hotel Pesona Bamboe
Kali ini trip bersama dengan Gank Neo. Ini merupakan trip part II dari Gank Neo, dimana sebelumnya trip gue yaitu ke Pulau Harapan. Anggota yang berangkat kali ini yaitu Gue,Eby,Vina,Ana,Indah,Rika,Rama,Mas Yasir, dan 1 temennya Eby. Kita berangkat naik 2 mobil pribadi.


Langsung aja ke TKP di Lembang, disini gue nginep di Hotel Pesona Bamboe. Cukup recomended dengan harga sekitar 500ribuan, bisa dapet 1 kamar dengan 4 tempat tidur,1 wc, dan 1 ruang tamu dengan TV. Paketnya dapet 2 breakfast dengan makanan yang cukup enak.



Air Terjun Maribaya
Tempat pertama yang gue kunjungin yaitu Air Terjun Maribaya. Letaknya tidak begitu jauh dari De Ranch. Tinggal lurus saja dari sini, nanti juga ketemu. Untuk ke air terjun maribaya, kita harus trekking sekitar 2,5km. Karena hawanya dingin dan kita sembari ngobrol, maka perjalananpun tidak begitu terasa capek. Disini tidak terlihat sebagai tempat wisata, karena tidak begitu rame tempatnya. Ternyata memang cukup mengecewakan tempatnya. Air terjunnya seperti kurang terawat. Banyak sampah-sampah berkeliaran di sekitar Air Terjun membuat pemandanganpun menjadi tidak indah lagi.



Floating Market
Tempat kedua yaitu Floating Market. Dibanding Air Terjun,tempat ini cukup recomended. Disini kamu bisa kuliner makanan-makanan disini. Cukup recomended untuk yang berkeluarga, karena ada banyak saung-saung disini. Selain itu disini juga bisa menjadi sarana tempat bermain untuk anak kecil.



Air Terjun Ciater
Tempat ketiga yaitu Air Terjun Ciater. Menuju kesini cukup jauh dari lembang dibandingkan dengan tempat-tempat yang lain. Bila mau kesini, kamu melalui jalan yang menuju Tangkuban Perahu, namun ini masih jauh lagi. Cukup recomended juga disini. Namun karena waktu kita yang tidak banyak, membuat kita tidak bisa lama-lama disini. Disini ada banyak wahana permainan selain Air Panasnya tentunya.  Ada mini golf,outbond,kebun strawberry,dll. Disarankan bila mau kesini, anda harus dari pagi hingga sore untuk benar-benar bisa menikmati sebagian wahana disini.

Lembang merupakan kota wisata kecil yang bisa dijadikan kita warga jakarta untuk sejenak berlibur ataupun rehat dari hingar bingar kota Jakarta. Selain 3 tempat diatas masih ada tempat-tempat di Lembang yang layak untuk dikunjungin, diantaranya Teropong Boscha, Gn. Tangkuban Perahu. So ada kemungkinan suatu saat gue akan kembali ke Lembang menikmati tempat-tempat menarik lainnya...

Foto-foto selengkapnya disini

 
Free Joomla TemplatesFree Blogger TemplatesFree Website TemplatesFreethemes4all.comFree CSS TemplatesFree Wordpress ThemesFree Wordpress Themes TemplatesFree CSS Templates dreamweaverSEO Design